Hardisonbredahl87's website

Our website

03
Fe
Arti Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
03.02.2017 05:49


Pendapat bahasa ‘Aqiqah artinya: menyabet. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan itu. Ada yang mengatakan kalau aqiqah ialah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada agaknya yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang tersembunyi pada oknum si balita ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut berikut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 upaya untuk budak laki-laki serta 1 sudut untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan momongan perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak tersebut tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, oleh sebab itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, dari kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi oleh sebab itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sudah ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 daripada kelahirannya, beliau memberi seri dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak juz 4, hal. 264]

Tanggapan: Hasan serta Husain ialah cucu Nabi SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Patut, dia berkata: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Norma Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) pantas pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan mayoritas ulama cakap fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah perintah, namun tak bersifat wajib, karena ada sabdanya yang memalingkan atas kewajiban yakni: “Barangsiapa diantara kalian ada yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Serbuk Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Sultan berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh di dalam aqiqah ini hewan yang picak, renyah, patah tulang, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam satwa aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Lewat kami pada masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumangkan kepalanya dengan darah kambing itu. Maka setelah Sang pencipta mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, memotong (menggundul) oknum si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud bagian 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang bocah, mereka melumuri kapas secara darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur sabut si balita mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW menitahkan, “Gantilah darah itu dengan minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban secara tartib Putra Balban juz 12, sesuatu. 124]

Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW bersabda, “Seorang anak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka saat hari ke-21 atau bilamana saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) buat dasar bujukan, maka takut-takut menyembelih dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah cukup. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana tutur Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan bukan menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. http://dapoeraqiqah.com/aqiqah-bandung/ Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan apabila tidak siap melaksanakannya di hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan saat hari di empat belas kasihan, dan jika tidak dapat, maka saat hari di dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah daripada ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke 4 belas, serta ke dua puluh wahid. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga minggu masih bukan mampu maka kapan selalu pelaksanaannya di kala sudah mampu, karena pelaksanaan saat hari-hari ke tujuh, ke empat belas kasihan dan di dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama tak wajib. Dan boleh pula melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Momongan yang menyisih dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, apalagi meskipun budak yang miskram[cak] dengan syarat sudah berusia empat kamar di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si balita. Namun apabila seseorang yang belum di sembelihkan satwa aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, maka dia siap menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal tersebut tidak apa-apa menurut hamba, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, dipastikan pada hari keempat belas. Dan jika gak bisa lagi, maka dalam hari kedua puluh wahid. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi pikulan ayah.

Namun demikian, jika ternyata tatkala kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri pada saat mantap. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Kepala Ahmad menjawab, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi begitu kecil, oleh karena itu lebih baik melakukannya seorang diri saat mendalam. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Menurut mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Total hewan aqiqah minimal adalah satu termuda baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sesuai perkataan Rumpun Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud & Ibnu Al Jarud)

Aku harus pulih bahwa Hasan dan Husain adalah anak kembar. Oleh sebab itu pada tunggal kelahiran ini disembelih dua ekor kambing.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki serta 1 kontrol untuk budak perempuan berdasarkan hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba dan dari anak perempuan satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor kambing yang seimbang dan daripada anak dara satu ekor. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang keturunan

1. Disunnatkan untuk memberi nama & mencukur serabut (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir pada hari Esa, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang bagi anak dara 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan mendapatkan orang tua si anak, tapi boleh pula dilakukan sambil keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan pada kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk bani dan satu ekor kibas untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan fakir miskin pula bisa dikasih kepada orang non-muslim. Apalagi jika sesuatu itu dimaksudkan untuk mempesona simpatinya serta dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi mencopet orang nista, anak yatim, dan tawanan, dengan sikap senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada saat itu merupakan orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga juga boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah pelupuk mata atau bini, sebagaimana sejarah di bawah ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia sudah bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak cewek satu sudut kambing. Bukan menyusahkanmu cantik kambing tersebut jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan aku belum meraih dalil yang lain yang menampilkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Zaman yang dituntunkan oleh Rasul SAW bertolak pada dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 mulai kelahiran keturunan tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Mengenai dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, serta mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat serta tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada umat islam, dan mampu mengundang teman-teman dan suku untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz berkata: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang manusia yang tuan lihat pantas diundang daripada kalangan kerabat, tetangga, teman-teman seiman dan sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi jika ada signifikansi antara definisi sebuah identitas dengan yang diberi pamor. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyatakan hal itu.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang terkandung dalam seri berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama itu diambil daripada makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui akibat nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putra Al-Musayyib mengatakan: “Orang ini senantiasa bergaya keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang indah untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang indah yang padan diberikan merupakan nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Daripada Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Agama islam, silahkan klik:

Memberi Pamor Bayi atau Anak Dengan Islami


Membabat Rambut

Menjatuhkan rambut ialah anjuran Rasul yang amat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Laksmi dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat serat tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan beserta rata; tidak boleh hanya mencukur sekitar kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar lagi sedekahnya.

Doa Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan nama Allah, akur Allah terimalah (kurban) dari Muhammad & keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk keturunan ini beserta kalimat Allah Yang Sempurna dari seluruh gangguan syaitan dan gangguan binatang bersama gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Sang pencipta SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Pada aqiqah ini mengandung bagian perlindungan dari syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir ini, dan ini sesuai beserta makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari huru-hara syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sambil Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai per aqiqahnya”.

3. Aqiqah yaitu tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad mengeluarkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud merasai syukur untuk karunia yang dianugerahkan Yang mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menimbulkan rasa ribut dalam melakukan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan masih banyak juga hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Create your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!